Breaking News

Setiap Anak Memiliki Sejarahnya Sendiri



#SerialParenting
Setiap Anak Punya Sejarahnya Sendiri

Jangan sampai anak menjadi peluru balas dendam ambisi orangtua yang gagal diraih dimasa lalu."_

- Penulis: Karnoto | Founder: ANA Networking -

=======================

Satu hal yang harus menjadi kesadaran kolektif para orangtua yaitu bahwa setiap anak memiliki sejarah hidupnya masing-masing sebagaimana kita (orangtua-red) yang juga memiliki cerita dan sejarah hidup sendiri, begitu pun anak-anak. Biarkan mereka menulis sejarah hidupnya sendiri, biarkan mereka bergulat dengan mimpinya sendiri.

Tugas kita sebagai orangtua adalah memberikan akar kepribadian, sikap dan pola pikir tentang dirinya agar saatnya mereka tampil dengan versi mereka tidak lepas dari akar tersebut. Ajarkan anak kita tentang tanggungjawab, kepribadian, bersikap, tentang kasih sayang, tentang empati, tentang cinta dan cara mengelola persoalan.

Ajarkan pula anak kita tentang keberanian mengambil keputusan berikut manajemen risiko atas keputusannya tersebut. Mengapa ini penting? Karena tidak selamanya kita akan berada di samping mereka, tidak sepanjang waktu kita bisa mendampingi mereka. Pada ujungnya mereka akan hidup dengan dunianya sendiri.

Dan satu hal lagi, biarkan anak-anak menikmati masa setiap episode hidupnya. Ada masanya menjadi anak-anak, ada masanya menjadi remaja dan ada masanya menjadi orang dewasa. Terpenting adalah kita memberikan road map, rambu-rambu untuk menjadi pegangan mereka akan berjalan on the track.

"Jangan paksa anak untuk membalas dendam atas impian kita sebagai orangtua yang dulu sempat ada dan tidak tercapai. Setiap anak memiliki zamannya maka biarkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan zaman yang dia hadapi."_

Pada bagian ini mesti hati-hati dan jangan salah menterjemahkan perubahan zaman lalu kemudian anak-anak kita dibiarkan terseret arus. Arus hedonisme, arus flexing, arus toxic. Bukan, bukan itu yang dimaksud kalimat di atas.

Anak-anak kita memang akan menghadapi dunia yang berbeda dengan dunia yang kita hadapi dulu, tapi bukan berarti kita membiarkan mereka terseret arus. Prinsipnya adalah kita mewarnai atau justru kita yang terwarnai.

Itulah pentingnya menanamkan akar pendidikan kepada anak-anak kita sehingga saat waktunya mereka bergulat dengan waktu tidak lepas dari akar tersebut. Dan akar ini hanya akan tumbuh ketika orangtua memberikan keteladanan. Sebab secara psikologi, anak akan mengikuti dari apa yang kita lakukan daripada apa yang kita ucapkan.

Ketika orangtua mengatakan bahwa Agama penting maka ucapan orangtua harus sejalan dan selaras. Mustahil, anak kita akan patuh soal agama kalau orangtuanya sendiri jauh dari agama. Buah tidak jatuh terlalu jauh dari pohonnya, ungkapan ini sesungguhnya menjadi lampu kuning para orangtua agar ketaladanan adalah nasehat paling didengar anak-anak.

Apapun sikap dan cara berpikir anak-anak tidak akan jauh dari cara orangtua mengajarkan dan memperlihatkan kepada anak-anak. Kita (orangtua-red) adalah maha guru bagi anak-anak. Posisi ini harus menjadi kesadaran kolektif agar paham betul bahwa karakter anak, tingkah anak tidak akan lepas dari turunan kedua orangtuanya. ***

Type and hit Enter to search

Close