"Mas, bisa ke rumah ga," kata dia yang saya jawab bisa. Setelah sampai di rumah pengelola yang saya masih ingat namanya Pak Somali."_
Tulisan punya dampak luar biasa, karena dengan tulisan kita bisa merubah sesuatu yang luar biasa menjadi biasa saja. Sebaliknya, kita juga bisa merubah sesuatu yang biasa saja bisa menjadi luar biasa. Sepenuhnya tergantung selera penulis.
Dan bagi kita seorang Muslim sejarah tentang kehebatan tulisan itu sudah pernah ada di zaman Rasulullah. Ketika itu kekuatan tulisan syair yang dibacakan dengan ekspresi luar biasa dan dampaknya luar biasa pula karena bisa mempengaruhi pemikiran orang.
Karena tulisan seseorang bisa membuat gejolak sosial, damai bahkan kerusuhan. Begitu dahsyatnya sebuah tulisan.
Menulis bukan sekedar merangkai kata dan kalimat, tetapi disana ada "perang" pemikiran. Pengalaman saya selama menjadi jurnalis pernah mengalami hal ini. Ketika itu saya membuat liputan khusus tentang kondisi madrasah diniyah di salah satu kampung di Kota Serang, Provinsi Banten.
Saya ceritakan kondisi madrasah tersebut dengan gaya penulisan feature, yaitu berita dengan gaya penulisan sastra. Begitu dramatiknya saya ceritakan realita madrasah tersebut. Mulai dari kerebrasan meja kursi, tembok kusam dan arap yang bocor. Singkat cerita, terbitlah tulisan dan dibaca oleh publik. Sekedar diketahui, saat itu belum ada media online jadi masih cetak.
Dan saya tidak menduga ternyata selang beberapa jam tulisan tersebut terbit ada orang yang telepon ke kantor dan meminta nomor telepon saya untuk mencari persisnya alamat madrasah tersebut.
Lalu saya kasih tahu alamatnya dan ternyata apa yang terjadi? Orang tersebut adalah pengusaha panglong (mebeler-red) yang tersentuh karena membaca tulisan saya dan mau ngirim bantuan meja kursi satu truk.
Saya tidak diberitahu kalau dia mau memberikan bantuan meja kursi untuk madrasah tersebut. Saya baru tahu keesokan harinya setelah ditelepon oleh pengelola madrasah.
"Mas, bisa ke rumah ga," kata dia yang saya jawab bisa. Setelah sampai di rumah pengelola yang saya masih ingat namanya Pak Somali. Dia meneteskan air mata mengucapkan terima kasih kepada saya."_
Saya kaget dong, dan bingung apa yang sebenarnya terjadi. Dan Pak Somali ini menceritakan kalau barusan ada pengusaha yang mengirimkan bantuan meja kursi satu truk untuk madrasah yang dia kelola karena tersentuh setelah membaca tulisan saya.
Dari situ saya merasakan betapa dahsyatnya sebuah tulisan kalau kita buat untuk sebuah perubahan, humanisme dan kemanusiaan. Saya merasa menjadi penulis yang berarti karena bisa menggugah seseorang sehingga mau membantu madarasah yang kalau musim hujan banjir, kursi meja juga terbatas sehingga harus bergantian belajarnya.
Padahal minat anak-anak di kampung tersebut luar bisa untuk belajar agama. Dan tidak berhenti disitu, efek dari kemajuan madrasah ini membuat Pak Somali menjadi tokoh di desa tersebut dan mengalahkan ketokohan lurah waktu itu.
Sampai suatu waktu saya mendengar Pak Somali dipilih warga untuk maju menjadi calon lurah dan akhirnya terpilih. Semoga berkah dan menjadi amal kebaikan untuk saya, Pak Somali dan para guru ngaji di madrasah tersebut.
Dari situ saya menyadari betapa hebatnya Al-Qur'an yang kali pertama menurunkan ayat Iqro, bacalah. Diperintahkan Rasulullah mengulang beberapa kali. Ini memberikan sinyal betapa urgenya seorang Muslim bisa menulis dan kita tidak akan bisa menulis kalau tidak suka membaca. **
Karnoto | Founder ANA Networking

Social Footer