Breaking News

Menghadapi Masa Transisi

Momen saat ngopi di sebuah kafe di Kota Serang, Provinsi Banten.


#PengembanganDiri
Menghadapi Masa Transisi

"Pada dasarnya setiap orang mengalami masa transisi karena itu adalah siklus alamiah."_

- Penulis: Karnoto | Founder: ANA Networking -

Ada satu masa dimana kita merasa bimbang, emosi diaduk-aduk, perubahan terasa bergerak cepat sehingga kita seperti berada di persimpangan jalan dan harus memilih, antara berdiri di tempat, jalan lurus, belok kanan atau belok kiri. Itulah saat dimana kita berada di masa transisi. 

Dan ini sebenarnya sebuah kewajaran karena karateristik masa transisi diantaranya adalah ketidakpastian, masa dimana seseorang sedang mencari identitas baru, masa dimana terjadi perubahan drastis yang tidak terprediksikan sebelumnya sehingga membuat emosi seperti diaduk-aduk.

Dan setiap orang pasti mengalami atau pernah berada pada masa transisi. Masa transisi dari kehidupan kampus ke pasca kampus dan berhadapan dengan dunia realitas. Transisi dari remaja ke dewasa, transisi dari hidup sendiri ke kehidupan rumah tangga, transisi dari orang biasa menjadi orang penting dan transisi-transisi lainnya.

Oleh karena itu penting bagi seseorang mengenali dan memahami karakteristik masa transisi agar bisa melewati masa ini dengan tenang sehingga kita tampil menjadi versi terbaik kita.

-Pada masa transisi kita akan dihadapkan pada perubahan yang bergerak cepat sehingga "memaksa" kita untuk melakukan akselerasi adaptasi dan ini membutuhkan energi yang lumayan besar."_

Sebab masa transisi akan ditandai dengan kemunculan konflik batin yang membuat seseorang bimbang, bingung harus kemana dan bagaimana. 

Karakteristik masa transisi yang mencari identitas baru juga seringkali membuat seseorang seperti berjalan  melihat bayangannya sendiri, karena dimasa inilah seseorang mulai kembali memproses identitas barunya. 

Ketika seseorang selesai kuliah maka dia akan mencari identitas baru sebagai masyarakat biasa yang harus bertempur menghadapi dunia pasca kampus yang jelas berbeda dengan dunia kampus.

"Sebuah kewajaran kalau kemudian sebagian besar orang mengalami stres ringan bahkan sedang ketika menghadapi masa transisi karena menghadapi dunia baru."_


Pada dasarnya setiap orang mengalami masa transisi karena itu adalah siklus alamiah.  Menghadapi masa transisi bukan berarti  dengan cara menolak keadaan, tapi terimalah itu bagian dari episode hidup yang harus dihadapi.

Masa transisi adalah sebuah keniscayaan, artinya sesuatu yang pasti terjadi dan setiap orang pasti mengalami. Dimasa inilah kita membutuhkan kehadiran support system, artinya kehadiran seseorang yang bisa memberikan arah, persepsi sehingga bisa menjadi guide  untuk membantu normalisasi keadaan. 

Untuk bisa membantu memetakan alur cerita agar bisa melewati masa transisi dengan happy ending.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan ketika menghadapi masa transisi selain ketenangan, yaitu bangunlah growth mindset atau pola pikir bertumbuh. Sadarilah bahwa kehidupan terus bergerak maju, bukan sekedar nostalgia masa lalu.

Jangan pandang ketidapastian dimasa transisi sebagai sebuah kegagalan dan akhir perjalanan hidup, tidak ! Sama sekali bukan akhir perjalanan hidup kita. Tempatkan masa transisi sebagai sebuah tantangan baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang  berkelas dengan versi terbaik kita.

Selain membangun mental bertumbuh, kita juga harus menjadi pembelajar. Lepaskan memori bahwa belajar mesti duduk di kursi lalu mendengarkan dosen menjelaskan mata kuliah. 

Mulailah menyadari bahwa kita mulai masuk pembelajaran di kampus terbesar yaitu universitas kehidupan, dimana dosennya tidak yang bergelegar doktor atau profesor melainkan para praktisi kehidupan nyata.

Ketika kita berada di masa transisi  mulai belajar regulasi emosi, artinya mulailah belajar mengelola emosi, menormalisasi emosi agar mental kita tetap sehat sehingga bisa menghadapi dan keluar dari masa transisi dengan menjadi pribadi berkelas. 

Kita bisa melakukan ini dengan berbagi cerita dengan orang yang bisa kita percaya dan nyaman untuk share.

Mungkin tidak bisa memberikan jalan keluar cepat tapi paling tidak ada tempat untuk berbagi sehingga tidak merasa sendiri. Selain itu, regulasi emosi juga bisa dengan cara menulis.

Bisa menulis jurnal, karya ilmiah atau sekedar diary tentang perjalanan hidup kita, karena menulis cara melatih kita untuk menselaraskan antara pikiran, hati dan gerakan fisik (tangan-red). Menulis bukan sekedar merangkai kata-kata tapi cara kita menuangkan ide dan gagasan. 

Regulasi emosi juga bisa dengan cara healing ke tempat sunyi, naik gunung, piknik ke alam bukan di tempat keramaian seperti mall atau tempat berisik lainnya. Karena karateristik alam adalah menjaga kesimbangan sehingga kita akan terbantu menyeimbangkan keadaan.

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa masa transisi adalah sebuah siklus alamiah yang dihadapi semua orang. Dan jangan ditolak masa transisi ini, terima dan hadapi dengan tenang dan membangun mental bertumbuh. 

Berpikirlah kemungkinan bukan keterbatasan karena itu yang akan membuat kita terus berumbuh dengan versi terbaik kita. Jadilah seperti peselancar, dia tidak lari dari gelombang tapi justru menikmati gelombang, semakin tinggi gelombang maka semakin asyik dia berselancar. 

Terakhir jangan lupa naikin spiritual kita karena mesti ingat bahwa yang bisa memberikan ketenangan itu cuma Allah. Berbeda dengan kebahagiaan yang bisa kita ciptakan sendiri. Dalam setiap diri manusia sesungguhnya ada tiga unsur, yaitu pikiran, fisik dan jiwa, ketiganya harus seimbang dan diberikan nutrisinya masing-masing.

Nutrisi pikiran adalah diskusi produktif, membaca buku atau terlibat aktif dalam komunitas yang bisa mengembangkan potensi kita. Sementara nutrisi fisik adalah olahraga, makan bergizi dan nutrisi jiwa adalah ibadah.****



Type and hit Enter to search

Close