![]() |
| Foto saat traveling di area perkembunan anggur di Gunung Kidul, Jogjakarta beberapa tahun silam. dok.pribadi |
Dahulukan cita-cita bukan cinta agar kelak cinta yang kau dapatkan sesuai dengan level cita-citamu."_.
Penulis: Karnoto | Founder: ANA Networking
Cita-cita dan cinta seringkali bertabrakan sehingga harus ada yang dikorbankan. Ada yang memilih mendahulukan cinta sehingga cita-cita di kebelakangkan ada pula sebaliknya, seseorang mendahulukan cita-cita daripada cinta.
Tapi asal tahu, cinta sebenarnya tidak perlu dikejar karena dia akan datang sendiri sebagaimana dia akan pergi dengan sendirinya tanpa permisi. Cinta berkelas adalah cinta yang menghangatkan bukan membakar. Karena cinta tidak bisa direkayasa, dia mengalir secara halus dan datang tanpa aba-aba. Itu mengapa cinta sering disebut sebagai ujian paling halus.
Cinta berkelas mengantarkan seseorang menemukan dirinya bukan justru menjauhkan seseorang dengan dirinya sendiri, melepaskan potensi dirinya dan meredukan karakternya. Inilah cara menempatkan cinta yang keliru karena membuat seseorang kehilangan dirinya.
Cinta sehat itu adalah cinta yang bisa saling tumbuh dan berkembang meski dengan spektrum berbeda. Tapi realitas di zaman sekarang banyak orang justru terbakar cinta sehingga melumatkan dirinya sampai kehilangan arah dan berada di persimpangan jalan, antara diam di tempat, belok kanan, belok kiri atau jalan lurus.
Karena cinta sebenarnya adalah permainan orang dewasa. Ketika cara berpikir soal cinta keliru maka dipastikan arah perjalanan cinta itu pun akan tersesat, terjerembab dalam kubangan lumpur hidup yang akan menenggelamkan seseorang.
"Cinta tidak perlu dicari apalagi dikejar karena dia akan datang tanpa permisi sebagaimana dia pun akan pergi tanpa kabar dan aba-aba. Ketika cinta itu datang terimalah sebagai anugerah tetapi kendalikan dia agar tetap on the track sehingga kesucian cinta tetap terjaga."_
Jangan berlindung atasnama cinta padahal dirimu kalah oleh pertempuran nafsu yang justru membuyarkan arah perjalanan hidup seseorang. Maka dari itu dahulukan cita-cita bukan cinta. Biarkan cinta nanti yang menyesuaikan cita-cita kita.
Percayalah cinta akan datang menyesuaikan frekuensi pola pikir kita, cinta akan muncul sesuai dengan cara berpikir kita. Ketika level berpikir kita di bawah standar maka cinta yang datang pun di bawah standar.
Sebaliknya, ketika kita menjadi pribadi yang berkelas cara berpikirnya, berkelas adabnya, berkelas perilakunya, berkelas cara bicaranya maka cinta yang datangpun akan berkelas.
Cinta bisa menjadi racun, tapi juga bisa menjadi obor yang menyalakan jiwa seseorang karena cinta bisa merubah seseorang dengan cara sederhana. Islam telah memberikan rambu-rambu dan roadmap bagaimana kita mengelola cinta.
Cinta bisa mengikat seseorang tapi juga bisa menjadi pemicu kita untuk berkembang. Itulah mengapa cinta sulit didefinisikan karena cinta tidak bisa dilihat dari logika melainkan dengan rasa.
Tapi sesungguhnya antara cinta dan cita-cita bisa disandingkan asalkan paham ilmunya. Sebab keduanya seperti senyawa yang menyelinap dalam diri seseorang. ***

Social Footer